Permodelan Hasil Riset Data Penerapan Teknologi Irigasi Pertanian & Pengairan di Panggang – Purwosari, Pegunungan Kidul, D.I.Yogyakarta, Indonesia

TEKNOLOGI IRIGASI INDONESIA AREA PEGUNUNG KIDUL

Sebagai gambaran untuk para peneliti, mahasiswa, dosen, siswa- siswi, instansi, pembaca, organisasi dan kementerian pertanian RI. Agar dapat mengetahui seperti apa potret alam di daerah Pegunungan Kidul pada musim kemarau panjang pada September  2009 dan musim penghujan panjang pada musim penghujan Desember 2010 waktu kemarin

Lahan pertanian dan penduduk wilayah Gunung Kidul memiliki sifat dan keadaan yang berbeda jika dibandingkan dengan tanah Bantul dan Kulon Progo Provinsi D.I. Yogyakarta. Tanah pegunungan yang jarang ditemui di daerah- daerah lainnya dengan ketinggian antara 30 – 100 meter atau lebih dari permukaan air laut tersebut, tentunya memiliki permasalahan yang cukup kompleks dari segi kebutuhan air untuk kehidupan warga di sini. Mulai dari kebutuhan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Musim tanam padi biasanya hanya dapat dilakukan satu kali musim tanam setiap tahunnya. Keadaan tanah yang kering hanya bisa digunakan untuk tanaman palawija saja. Mengingat kebutuhan akan makan sehari-hari, yang mana karbohidrat diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Maka penanaman ketela pohon sering dilakukan dan menjadi hal yang biasa. Sebab tanaman ini tidak terlalu membutuhkan banyak air. Namun bila disuruh memilih, saya yakin mereka pasti lebih memilih beras dari pada ketela pohon. Kesimpulannya hal yang mendasari dari permasalahan utamanya, yakni tentang kebutuhan irigasi/ air yang tidak bisa diandalkan. Dengan keadaan tanah yang kering sebagai akibatnya, meski ada juga penahan air dengan kolam yang lumayan besar dari tadah hujan dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi itu tidak dapat menjangkau semua wilayah ini.

Seperti apakah gambaran di daerah ini, bisa disimak pada foto- foto di bawah ini beserta keterangan tambahan :


Foto 01

Metode penampungan air memang bervariasi. Lain tempat lain cara. Bak penampung air yang terbuat dari beberapa buis ini merupakan salah satu model penampung air yang ada di daerah Gunung Kidul. Berbeda dengan media penampung di daerah Kulon Progo yang menggunakan embung dengan daya tampung volume besar di daerah pesisir. Dengan bentuk fisik diatas, harapanya, air yang tertampung bisa lebih banyak untuk yang berada di buis tinggi tersebut. Sedangkan untuk bak yang lebih rendahnya untuk kemudahan dalam mengambil air. Tampak sambungan pipa paralon kecil diantara dua bis tersebut untuk menghubungkannya, supaya terjadi satu kesatuan sumber airnya.

Foto 02

Bentangan pegunungan Kidul ini terlihat luas dan begitu besarnya. Warna pegunungan yang kecoklatan terang indikasi kekeringan air yang melanda area ini. Daun yang harusnya terlihat kehijauan subur, terlihat begitu menguning.

Foto 03

Lahan pertanian di pegunungan jika dilihat lebih dekat yang berada pada gambar area bawah ini belum lama digarap. Kenyataan adanya kekurangan air yang terjadi pada musim ini terbukti jika memperhatikan pohon – pohon jati yang keguguran daunya. Untuk sistim pengairan di sini hanya menggantungakan dari alam. Khususnya hujan yang datangnya pun tidak menentu. Jagung merupakan prioritas yang pertama selain lombok dan kacang untuk jenis keadaan seperti ini bagi para petani yang menggarapnya. Meski nantinya hasilnya tidak begitu menjanjikan, petani yang mengolah tanah ini hanya berharap setidaknya ada hasilnya meski tidak menentu. Dari pada didiamkan sama sekali.

Foto 04

Keadaan lereng-lereng dengan sistem perairan teras iringnya. Terlihat tiga petani yang nampak berwarna keputihan. Keadaan wilayan yang masih mengalami tingkat kesulitan air yang cukup tinggi jika dibandingakan area lahan pasir Kulon Progo. Untuk mengairi tanaman, mereka hanya menggantungan air dari hujan yang mengalir dari lereng bagian atas menuju ke bawah bagian lereng lahan. Tanaman lomboklah yang mereka tanam ketika saya memperhatikanya dengan jarak yang lebih dekat.

Foto 05

Model reservoir di daerah puncak pegunungan hasil dari air  tadah hujan. Dengan adanya media penampungan air tadah hujan yang terletak di bagian atas area perbukitan. Beberapa oang yang memiliki kebutuhan air untuk mengairi tanaman dapat terwujud. Masalah yang dihadapi oleh mereka, adalah, pendistribusian air yang tidak bisa seenak daerah Bantul. Keawetan debit isi air memang harus dijaga. Akibatnya air ini terlihat seolah- olah hanyalah kolam yang terkadang digunakan oleh warga sekitar untuk memancing ikan.

Foto 06

Proses penanaman jagung untuk memanfaatkan lahan pertanian yang dilakukan bersama pada lahan kering pada musim kemarau. Melihat kondisi tanah seperti ini jagung memang harapan bagi mereka. Selain kebutuhan air yang tidak terlalu banyak, ternyata dahan pohon dapt digunakan untuk kebutuhan hewan ternak sapi mereka.

Foto 07

Model air tadah hujan pada musim kemarau yang masih alami tanpa adanya beteng fondasi dari semen dan gamping pada musim kemarau di daerah perbukitan area pegunungan. Kebutuhan air yang digunakan untuk pengairan tanaman hanya menguntungakan yang tidak jauh dari area air ini. Dengan menggunakan ember ala kadarnya, itulah cara dari salah satu pemilik lahan di dekat ini. Di sebelah kiri sudut bawah yang ada dahan kering kecoklatan, merupakan contoh satu area lahan pertanian yang dapat digunakan oleh sebagian warga. Tanaman jagung dan kacang yang mereka kombinasikan unutk dibudidayakan di sini.

Foto 08

Keadaan tumbuhan jati yang daunya gugur dengan hanya tinggal dahannya saja pada masa kemarau. Sekilas tanaman jati ini terlihat batangnya seprti akan mati. Akan tetapi karena tanaman jati juga merupakan jenis tanaman yang menggugurkan daunya pada musim kemarau, maka pada fase tersbut sudah terbukti. Selain tanaman untuk kebuthan makanan sehari- hari para petani di wilayah Gunung Kidul juga mengandalkan tanaman yang lainnya juga. Sebagai contohya adalah, pohon jati. Tanaman yang dikenal istimewa dalam bidang permeubelan ini banyak ditemui di wilayah Gunung Kidul. Selain kebutuhan air yang tidak terlalu membutuhkan banyak air, tanaman yang bisa betahan pada musim kemarau ini, juga dibutuhkan untuk kepentingan langsung maupun tidak langsung. Sebagi contohya untuk mengganti rumah atau pun dijual untuk dijadikan uang, yang pada akhirnya juga untuk memenuhi kebutuhan hidup juga.

Foto 09

Tanaman yang berada di dekat pinggir jalan ini merupakan tanaman untuk kebututuhan hewan ternak. Tetapi untuk tanaman yang berada di belakang tanaman pisang di atas  merupakan kacang tanah yang siap panen karena umurnya. Warna kehijauan pertanda suburnya tanaman kacang tersebut. Keadaan seperti ini karena penanaman dilakukan pada musin penghujan. Sehingga kebutuhan akan pengairan dapat terpenuhi.

Foto 10

Tanaman tampak hijau dengan model teras iring pada musim penghujan. Berbeda dengan pada  <-foto 02-> sebelumnya yang terlihat warna kecoklatan akibat kekeringan pada musim kemarau. Untuk keadaan pada <-foto 10-> ini bukanlah tanaman yang jenis petanian. Namun merupakan tanaman yang tumbuh liar, tetapi juga dibutuhkan bagi yang mengolah lahan tersbut. Untuk kebutuhan dapur, misalnya, saat nanti sudah kering kayunya.

Foto 11

Dua orang petani yang sedang bekerja mengambil rumput di sela- sela tanaman padi dan jagung. Warna kehijauan yang terlihat subur menjadi kebahagiaan tersendiri bagi petani yang mengolah lahan tersebut. Dengan indikasi seperti itu, nanti pada musim panen akan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Di samping memanen padi, jagung juga merupakan jenis tanaman yang dapat dipanen pada musim panen nanti. Sebuah contoh peristiwa yang cukup mengesankan jika dibandingkan dengan pertanian daerah lahan dataran  rendah Bantul. Biasanya petani di daerah lahan rendah Bantul hanya bisa memanen satu jenis tanaman saja, yaitu padi saja. Sebab, sangat jarang sekali petani yang menggabungkan antara tanaman padi dengan jagung.

Foto 12

Tanaman palawija yang ditanam pada lahan teras iring dengan lahan bebatuan putih dan tanah coklat kemarahan. Lahan ini memang belum lama dijadikan area pertanian setelah selesai dari pembuatan yang tadinya banyak pepohonan jati dan lainnya yang memenuhi area ini. Tanaman yang dicoba ditanam tersebut adalah kacang tanah. Dengan diselingi juga tanaman jati dan beberapa pohon pisang.

Foto 13

Lahan pertanian yang tampak lereng di atas ditanami dengan ketela pohon yang masih tumbuh tidak kurang dari setengah meter. Untuk penanamannya, ketela pohon yang digunakan senagai bahan dasar gaplek di pegunungan Kidul ini  diletakkan dekat dengan bebatuan yang membatasi tingkatan lereng.

Foto 14

Gambar tanaman pada lahan miring yang diperdekat dengan obyek pohon pisang dan pohon pepaya. Untuk jenis pohon pisang yang ditanam di area ini, pisang Ambon yang terkenal di masyarakat merupakan pilihan utamanya. Selain bisa dikonsumsi sendiri, jika dijual harganya juga lumyan tinggi.

Foto 15

Gundukan pada foto diatas merupakan batas antara lahanpertanian satu dengan yang lainnya. Terlihat lima pohon jati yang ditanam pada perbatasan lahan di atas. Tanaman jenis jagung juga terlihat tumbuh juga. Pada tujuanya lahan di atas merupakan musim tanam padi yang digabung dengan tanaman jagung. Dengan tujuan pada masa panen nanti, dapat memanen dua jenis tanaman yang berbeda.

Foto 16

Di sebelah kiri  tanaman pisang Ambon di atas terlihat jenis tanaman lain lagi. Inilah jenis tanaman yang ditanam sebagai andalan petani di dekat blumbang alami tadah hujan ini. Keadaan volum air yang ada pada blumbang alam ini berbeda saat pada musim kemarau seperti tampak pada <-foto 07->  yang volum airnya lebih sedikit dari foto di atas ini.

Foto 17

Terlihat tananaman jagung yang masih kecil. Jaminan kesuburan tanaman dapat diprediksikan, mengingat kebutuhan air yang terpenuhi dengan memperhatikan air yang tepat berada di belakangnya. Sudah logis sekali, bahwa, kebutuhan air dari hujan terbukti juga dalam pemenuhan kebutuhan akan air yang dibutuhkab tanamana jagung.

Foto 18

Pecahan gerabah yang berisi air di atas bukti dari tadah hujan. Air tersebut memang bukan untuk pengairan tanaman di lahan ini. Tetapi, kegunaan air tersebut hanya untuk sekedar mencuci tangan atau kaki setelah si pemilik lahan selesai dalam bekerja. Agar terhindar dari kotor.

Foto 19

Terlihat tanaman pisang dan jagung tumbuh diantara tanah bebatuan. Sungguh repotnya petani di area ini, jika menengok lahan pertanian di daerah Bantul ataupun Kulon Progo yang dalam kenyataanya jarang terlihat sebuah pemandangan seperti di atas.

Foto 20

Selain tanaman jagung, tanaman kacang pun juga masih dapat hidup dengan subur pada area ini. Meski tanah didominasi bebatuan. Yang pasti kesabaran dan ketekunan sudah mencerminkan dari keadaan seperti ini. Mengingat lahan yang hampir presentasenya banyak bebatuan.

Foto 21

Dalam kenyataanya meski tanah pertanian di atas penuh dengan bebatuan, tetapi terlihat tanaman jagung yang tumbuh subur dengan buahnya yang sudah memulai akan membesar dan menunggu masa panen.

Foto 22

Kesuburan tanaman yang terlihat dari pinggir jalan raya menuju ke arah pantai Parang Tritis  dari arah Panggang ini juga jagung. Hasilnya sangat memuaskan pada musim panen tiba nanti, jika mellihat pemandangan tanaman seperti pada foto di atas.

Foto 23

Hamparan kehijauan tanaman padi di depan makam masyarakat pegunungan Kidul ini lumayan luas. Dan juga menggembiraka bagi para petani, mengingat musim panen nanti.

Foto 24

Kekompakan sembilan petani di atas tergambar saat mereka bersama- sama mengambil rumput hama/ gulma. Dengan harapan pada musim panen dapat menghasilkan pananenan yang memuaskan.

Foto 25

Tanaman padi di atas terlihat subur kehijauan, dengan diselingi pula tananam jagung. Tidak lain kesuburan ini, dikarenakan area tanam yang berada di dekat sumber air. Sehingga ketersediaan air unutk pengairan dapat terpenuhi.

Foto 26

Gambaran tanaman di area blumbang yang mendalam dengan dikelilingi tanaman padi. Untuk kebutuhan air pada area sekitar ini memang dapat terpenuhi. Akan tetapi kemungkinan untuk terendam tanamannya pada hujan yang deras besar sekali. Akibatnya tanaman juga tidak bisa dipanen pada waktu tiba nantinya.

Foto 27

Gambaran lahan teras iring yang ditanami padi pada musim penghujan pada Desember 2010. Kebutuhan air yang bersumber dari peristiwa hujan. Dengan bersumber dari lahan pertanian bagiana atas mengaliri ke lahan area bagian bawah. Untuk pengaturan air pada bagian lahan atas dijaga supaya air bisa mengalir menuju ke bawah namun masih ada yang tertinggal juga di lahan atas. Sehingga pada tanah lereng bagian atas tetap masih memiliki debit air. Jelas sekali dalam foto tersebut terlihat begitu subur dengan adanya  air yang dapat memenuhi kebutuhan tanaman padi tersebut.

=====================================================

Baca  juga  penerapan sistim teknologi irgasi petanian di tempat lainnya berikut :

=====================================================

Baca juga info terkait lainnya di bawah ini :

  1. Hasil Riset Data Permodelan Sistem Irigasi &  Pertanian Puworejo  Jalur Selatan [ Jembatan Jali s.d Jembatan Bogowonto ] Jawa Tengah,  Indonesia
  2. Hasil Riset Data Permodelan Sistem Irigasi &  Pertanian Tawangmangu, Jawa Tengah,  Indonesia
  3. Hasil Riset Data Permodelan Sistem Irigasi &  Pertanian Selopamioro Imogiri Yogyakarta Indonesia
  4. Hasil Riset Data Permodelan Sistem Irigasi Mata Air Pegunungn Goa Cerme Imogiri Yogyakarta, Indonesia
  5. Hasil Riset Data Permodelan  Sistem Penaik Air Tenaga Matahari Daerah Pegunungan Banyumeneng I, Pangggang, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
  6. Hasil Riset Data Permodelan Teknologi Sistem Irigasi Pengairan & Pertanian di perbatasan Siliran – Bugel Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, Indonesia
  7. Hasil Riset Data Penerapan Permodelan Sistem Teknologi Irigasi Pertanian & Embung Raksasa Garongan Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
  8. Hasil Riset Data Permodelan Teknologi Irigasi Pertanian & Pengairan di Giriloyo Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  9. Riset data Permodelan Sistem Teknologi Pertanian & Irigasi Lahan Panggang- Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
  10. Hasil Riset  Permodelan Teknologi Irigasi Pertanian & Pengairan data sampel di Kedon, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  11. Hasil Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  & Pengairan Sampel data di Kedungrong, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta Indonesia
  12. Hasil Riset  Permodelan   Teknologi Irigasi  Pertanian  Pengairan Sampel di Lintas Jalur Selatan Kulon Progo Yogyakarta Indonesia
  13. Hasil Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  Pengairan & Irigasi sampel data di 1 km, barat Jembatan Gantung Imogiri Bantul Yogyakarta Indonesia
  14. Hasil Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  Pengairan & Irigasi sampel data di Gedogan Sumbermulyo Bambanglipuro Yogyakarta Indonesia
  15. Hasil Permodelan  Riset  Teknologi Pertanian  Pengairan & Irigasi sampel data di Bugel Kulon Progo Yogyakarta Indonesia
  16. Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  Pengairan & Irigasi hasil sampel data di Waduk Sermo Kulon Progo Yogyakarta Indonesia
  17. Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  & Pengairan/ Irigasi hasil sampel data di gunung Gemak timur Kali Opak Soka Seloharjo Pundong Bantul Yogyakarta Indonesia
  18. Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian &  Pengairan/ Irigasi hasil sampel data di lahan pasir Sanden Bantul Yogyakarta Indonesia
  19. Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  Pengairan & Irigasi hasil sampel data di lahan  selatan sungai Opak Soka Seloharjo Pundong Bantul Yogyakarta Indonesia
  20. Riset  Permodelan  Sistem Teknologi Pertanian  & Pengairan/Irigasi hasil sampel data di lahan pertanian Sentolo Kulon Progo Yogyakarta Indonesia
  21. Riset Permodelan  Sistem Teknologi Modern Pengangkat Air dari sungai Opak ke atas Pegunungan di Pundong Bantul Yogyakarta
  22. Riset  Permodelan  Teknologi Pertanian  Pengairan/Irigasi hasil sampel data di lahan pertanian Panjatan Kulon Progo Yogyakarta Indonesia
  23. Riset  Permodelan Sistem Teknologi Pertanian  Pengairan/Irigasi Daerah Pantai Kukup, Drini, Krakal & Indrayanti Gunung Kidul Yogyakarta Indonesia
Iklan